عربي English עברית Deutsch Italiano 中文 Español Français Русский Indonesia Português Nederlands हिन्दी 日本の
Knowing Allah
  
  

Under category Bagaimana mengikuti Rasulullah saw.
Creation date 2009-08-18 00:40:41
Article translated to
العربية   
Hits 13425
kirim halaman ini ke teman anda
العربية   
kirim halaman ini ke teman anda Print Download article Word format Share Compaign Bookmark and Share

   

 

 

mu’az ra. bertanya kepada rasulullah saw.: apakah akan di pertanggung jawabkan apa yang telah di ucapkan oleh lidah kita? mu’az ra. berkata: lalu rasulullah saw. memukul paha mu’az ra. kemudian bersabda: “ya mu’az, ibumu kehilangan kamu, apakah manusia melemparkan diri mereka ke dalam neraka jahannam (dengan pasrah tanpa ada sebab), kecuali karena apa yang telah di ucapkan oleh lidah mereka, maka barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhirat maka hendaknya berkata baik atau diam dari perkataan yang buruk, katakanlah yang baik maka kalian akan mendapatkan pahala dan diamlah dari perkataan yang buruk maka kalian akan selamat”. (1).

dengan makhluk yang kecil ini (lidah) seorang manusia dapat mengungkapkan keinginannya, menyampaikan perasaannya, dengan lidahnya dia meminta kebutuhannya, membela dirinya, dan dengan lidah manusia mengungkapkan isi hatinya….dengan lidah seseorang berbicara dengan teman duduknya, dengan lidah seseorang bisa  mengucapkan (kata-kata) yang membuat nyaman temannya, dengan lidah seseorang bisa jatuh, rendah dan dengan lidah seseorang bisa terangkat derajatnya. (2)

rasulullah saw. bersabda: “siapa yang dapat berjanji kepada saya untuk menjaga apa yang terdapat diantara dua tulang di mulutnya (yang di maksud lidahnya atau mulut itu sendiri), dan juga dapat menjaa apa yang terdapat diantara kedua pahanya (kemaluannya) maka saya akan menjamin dia masuk surga”.(3).

berapa banyak orang yang sedang berpuasa, puasanya jadi rusak ketika dia tidak dapat mengontrol lidahnya dari perkataan-perkataan yang tidak benar? puasa di kerjakan bukan hanya untuk menahan lapar dan haus akan tetapi puasa di kerjakan untuk mendidik (pribadi seseorang menjadi lebih baik).

 sebab pada lidah (ucapan) terdapat lebih dari sepuluh kesalahan-kesalahan jika ia tidak terkontrol dengan baik, diantara aib yang di timbulkan lidah ialah: dusta, gibah (menggungjing atau gossip), adu domba, ucapan cabul, menghina atau menghardik, berkata jorok, bersumpah palsu, melaknat, mengolok-olok, mengejek dan sebagainya “. (4),.

 sedangkan muslim yang benar ialah seperti yang telah di sabdakan oleh baginda rasulullah saw.: “seorang muslim ialah yang dapat menjaga lidah dan tangannya”. (5).

rasulullah saw. bersabda: “sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang di ridhoi oleh allah swt. tanpa dia sadari  dengan kalimat tersebut allah swt. telah meninggikan derajatnya dengan kalimatnya itu, dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang tidak di sukai oleh allah swt. tanpa dia sadari  dengan kalimat tersebut allah swt. akan menjerumuskannya ke dalam neraka jahannam”.(6). kita meminta perlindungan kepada allah swt. dari api neraka jahannam.

 

jadi, apa petunjuk rasulullah saw. mengenai ucapan atau perkataan?

petunjuk rasulullah saw. mengenai perkataan ialah:

pertama: rasulullah saw. melarang untuk berdiam (dari pagi) sampai malam hari, dari ali ra. dia berkata: “aku telah menghafal (hadits) dari rasulullah saw.: “laa yatimmu ba’da ihtilaam, dan tidak diam sampai malam hari .(7). artinya berdiam tidak mengucapkan perkataan mulai dari pagi sampai malam hari.

kedua: adalah rasulullah saw. diamnya panjang, dari jabir bin samura ra. dia berkata: “adalah rasulullah saw. diamnya panjang dan sedikit ketawanya”. (8).

terus, bagaimana menggabungkan makna kedua hadits di atas (karena pada dzahirnya keduanya bertolak belakang)?

jawab: rasulullah saw. lebih banyak diam dan hanya mengucapkan ucapan jika hal itu di butuhkan.

ketiga: diantara ciri-ciri perkataan rasulullah saw., ialah:

1.       beliau di beri jawaami’ul kalam, rasulullah saw. bersabd: “aku di utus dengan di beri jawaami’ul kalam dan aku di beri pertolongan dengan rasa takut (yang di rasakan oleh pihak musuh)”.(9).

yang di maksud dengan “jawaami’ul kalam”  imam nawawi mengatakan, al harawi mengatakan: yang di maksud dengan “jawaami’ul kalam” ialah al qur’anul karim, allah swt. telah mengumpulkan lafadz-lafadz yang singkat dan mudah pada al qur’an akan tetapi mengandung banyak makna, begitupun perkataan rasulullah saw. adalah al jawaami’ sebab lafadznya sedikit akan tetapi mengandung makna yang banyak. (10).

 

2.       dari anas ra. ia berkata: “adalah rasulullah saw. mengulangi kalimat agar engkau mengerti dari (ucapan) beliau”.(11).

 

3.       dari aisyah ra. ia berkata: “tiadalah rasulullah saw. (mengucapkan perkataan seperti apa yang telah kalian lakukan ini), akan tetapi beliau mengucapkan perkataan dengan jelas, dan dapat di hafal oleh orang yang duduk (mendengarkannya)”. (12).

 

aisyah ra. berkata : “adalah perkataan rasulullah saw. adalah perkataan al fashl  sehingga dapat di pahami oleh orang yang mendengarnya”. (13).

 

yang di maksud dengan kata al fashl ialah: tidak menyambung antara (dua) kalimat, akan tetapi beliau memisah-misahkan sebagian yang lain dengan sebagian kalimat yang lain. (14).

4.       dari aisyah ra. ia berkata: “adalah rasulullah saw. jika beliau mengucapkan suatu perkataan kemudian (sekiranya) di hitung seseorang maka ia dapat menghitungya”. (15). hal ini adalah suatu bentuk kinaayah (kiasan) bahwasanya beliau tidak terlalu banyak bicara.

 

5.       dari jabir ra. ia berkata: “perkataan rasulullah saw. adalah (ibarat) tartil dan tarsil (yaitu indah dan bersambung kemudian dapat di pahami).

 

6.       dari jabir ra., bahwasasanya rasulullah saw. bersabda: ”sesungguhnya orang yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat tempatnya denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling bagus akhlaknya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dari kalian dan yang paling jauh tempatnya denganku pada hari kiamat ialah atstsartsaarun,  al mutasyaddiquun  dan al mutafaihaquun, mereka berkata: wahai rasulullah kami telah mengetahui atstsartsaarun dan  al mutasyaddiquun, maka apakah yang  di maksud dengan al mutafaihaquun? rasulullah saw. menjawab: “orang-orang yang sombong”. (17).

 

 

atstsartsaar: orang yang banyak bicara (tanpa data yang benar).

 

al mutasyaddiq: orang yang sombong kepada orang lain dengan perkataannya, dia berbicara dengan pembicaraan yang di penuhi dengan kesombongan.

 

al mutafaihaq: dari kata al fahqu  yang berarti penuh, yaitu orang yang mulutnya penuh dengan perkataan yang dia buat-buat sebagai bentuk kesombongan dan agar nampak kelebihannya atas orang lain.

 

7.       rasulullah saw. melarang beberapa hal, yaitu:

 

pertama: orang yang senang menyebarkan kabar yang tidak jelas (rumor), rasulullah saw. bersabda: “cukuplah seseorang (tercap) sebagai pendusta jika ia menceritakan setiap yang ia dengar”. (18).

 

imam nawawi mengatakan: “adapun makna hadits yang terdapat pada bab di atas ialah larangan untuk menceritakan seluruh yang di dengarkan oleh seseorang, karena pada biasanya (pembicaraan) yang ia dengar bisa benar bisa juga salah, maka jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar maka ia berdusta karena telah mengabarkan apa yang tidak sesuai dengan fakta, telah di terangkan bahwasanya mazhab ahlul haq mengatakan bahwa yang di maksud dengan dusta ialah memberitakan tentang sesuatu yang berbeda dengan kenyataan yang ada, tidak di syaratkan di dalamnya unsur kesengajaan, akan tetapi kesengajaan adalah suatu syarat bahwasanya hal itu adalah suatu dosa, wallahu a’lam”. (19).

imam malik mengatakan: “ketahuilah bahwasanya tidak akan di terima (perkataannya) orang yang mengatakan setiap apa yang ia telah dengar (tanpa ada bukti yang nyata), dan ia tidak bisa di kategorikan sebagai imam jika ia mengatakan segala sesuatu yang ia dengar. (20).

 

imam nawawi mengatakan: artinya ialah orang yang menceritakan setiap apa yang ia dengar maka akan banyak kesalahannya dalam periwayatannya, maka orang tidak lagi berpegang dengan perkataannya dan tidak lagi meriwayatkan dari dia”. (21).

 

kedua: dari seseorang, ia berkata: “aku (berjalan ) di belakang unta rasulullah saw. kemudian untanya tersungkur, lalu aku mengatakan: syethan tersungkur (terpleset), kemudian beliau bersabda: jangan kamu mengatakan syethan tersungkur,karena jika engkau mengatakan hal itu maka akan semakin besar (perkataanmu) sehingga bisa menyamai sebuah rumah besarnya, dan beliau mengatakan: (dan jangan juga engkau mengatakan) dengan kekuatanku, akan tetapi katakan: dengan nama allah, karena jika engkau mengatakan hal tersebut maka akan semakin mengecil (perkataanmu) sehingga menyamai seekor lalat.(22).

 

ketiga : dari abi hurairah ra. bahwasanya rasulullah saw. bersabda: “jika seseorang mengatakan kebinasaan (buat) manusia, maka ia termasuk bagian dari mereka yang tertimpa kebinasaan”. (23).

 

imam malik mengatakan: “jika ia mengatakan hal tersebut karena merasa sedih (prihatin) terhadap apa yang ia lihat terhadap manusia –artinya dalam hal urusan agama mereka- maka menurut saya hal itu tidak apa-apa, akan tetapi jika ia mengatakan hal itu karena sombong dan menganggap remeh orang lain maka yang hal tersebut di larang”. (24).

 

 

1.       as shahiha 413.

2.       40 darsan liman adraka ramadhan li abdil malik al qasim, hal: 83.

3.       di keluarkan oleh imam al bukhari.

4.       tsalaatsuna darsan li sshaimin oleh ‘aid al qarni, hal 30-31.

5.       shahihul jaami’ as shagir 6709 dan hadits ini shahih.

6.       hadits di riwayatkan oleh imam al bukhari.

7.       abud daud dengan sanad yang hasan.

8.       imam ahmad dan di hasankan oleh al baani.

9.       di riwayatkan oleh imam al bukhari dan imam muslim.

10.   syarhul muslim 5/5.

11.   hadits riwayat imam bukhari.

12.   hadits riwayat imam bukhari dan muslim.

13.   di riwayatkan oleh imam ahmad dan abu daud dan di hasan kan oleh syekh al baani.

14.   asyraful wasaail ilaa fahmi syamaail, oleh ibn hajar al haitsami bi tashrif, hal 3.3.

15.   di riwayatkan oleh imam bukhari dan imam muslim serta abud daud.

16.   di riwatkan oleh abu daud dan di hasan kan oleh al baani.

17.   di riwayatkan oleh tirmidzi dan di shahih kan oleh al baani.

18.   muslim.

19.   syarhil muslim.1/75.

20.   muslim 5 bab annahyu ‘anil hadits bi kulli maa sami’a.

21.   syarhil muslim1/75.

22.   di riwayatkan oleh abu daud dan di shahih kan oleh imam al baani.

23.   muslim dan abu daud.

24.   shahih abu daud 4169.

 

 

 

 

 

 




                      Previous article




Bookmark and Share


أضف تعليق

You need the following programs: الحجم : 2.26 ميجا الحجم : 19.8 ميجا