Mu'awiyah, Panglima Islam Pertama yang Menaklukan Lautan-3

Imam Ahmad pernah ditanya tentang orang yang merendahkan Mu'awiyah dan Amr bin Ash, apakah boleh kita katakan padanya dia seorang Rafidhoh? Beliau menjawab, "Sesungguhnya tidak ada orang yang lancang terhadap keduanya melainkan ada kejelekan yang disembunyikan pada hatinya. Maka tidak ada seorangpun yang mencela salah seorang dari sahabatnya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melainkan dirinya punya niatan jelek, karena Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي » [أخرجه البخاري ومسلم]

"Sebaik-baik orang adalah generasiku". HR Bukhari no: 3651. Muslim no: 2433.

 

Imam Malik menjelaskan, "Barangsiapa yang mencela salah seorang dari sahabat Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam baik itu Abu Bakar, atau Umar, Utsman, Ali, Mu'awiyah, atau Amr bin Ash, jikalau orang tersebut sampai mengatakan mereka diatas kesesatan dan kekufuran maka dirinya dibunuh, dan bila dia mencela mereka bukan seperti ini, seperti celaan-celaan orang pada umumnya, maka dirinya diberi hukuman yang sangat berat".[1]

 


Adapun apa yang terjadi antara Mu'awiyah dan Ali dari peperangan antara keduanya. Maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Demikian pula kami mengimani untuk menahan lisan atas perselisihan yang terjadi diantara mereka, dan kita mengetahui bahwa sebagian berita yang sampai kepada kita tentang suatu hal pastinya hal tersebut ada yang dusta, karena mereka semua melakukan berdasar ijtihadnya, jika mereka benar dalam ijtihadnya mereka mendapat dua pahala, atau diganjar atas amalanya sebagai amal sholeh, yang mereka diampuni atas kesalahanya.

 

 


Adapun jikalau ada kejelekan pada mereka, -dan rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mendahului mereka- sesungguhnya -Dia akan mengampuninya, dengan taubatnya, atau kebajikan yang menghapus keburukannya, atau tertimpa musibah sebagai penebus kesalahannya, atau sebab lainnya. Sesungguhnya mereka adalah generasi terbaik pada umat ini".[2]  Sebagaiamana dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي الذين بقيت فيهم ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ » [أخرجه البخاري ومسلم]

"Manusia terbaik adalah generasi yang aku tinggal bersama mereka, kemudian generasi setelahnya". HR Bukhari dan Muslim.

 

Ibnu Qudamah al-Maqdisi menerangkan, "Diantara perkara sunah ialah mencintai para sahabat Rasulallah, loyal terhadap mereka dengan menyebut-yebut kebaikannya, mendo'akan keselamatan dan ampunan atas mereka, menahan lisan untuk tidak mengungkit-ungkit keburukan mereka, serta perselisihan yang terjadi dikalangan mereka, meyakini akan keutamaan mereka dan mengetahui para pendahulu dikalangan mereka".[3]


Allah tabaraka wa ta'ala berfirman untuk mendo'akan mereka semua dalam ayat -Nya: 

 

 

 

﴿ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠﴾[الحشر :10]

 


"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo'a: "Ya Rabb Kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS al-Hasyr: 10).


 

Dan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang mereka:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

 


"Janganlah kalian mencela para sahabatku, kalau seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan sebesar gunung Uhud, tidak akan mampu mencapai satu mudnya mereka tidak pula setengahnya". HR Bukhari no: 3673. Muslim no: 2541.[4]

 


Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

 

 

 



[1] . asy-Syifaa fii Huquqil Musthafa karya Qodhi Iyadh 2/308.

[2] . Majmu Fatawa 3/406.

[3] . Lum'atul I'tiqod hal: 31.

[4] . Lihat pembahasan ini secara luas dalam kitab Salis Lisan fii Dzabi 'an Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu, karya Syaikh Sa'ad as-Sabi'i.

Previous article