1. Articles
  2. Teori Hidup Menurut Komunis
  3. Bantahan atas syubhat ini

Bantahan atas syubhat ini

Under category : Teori Hidup Menurut Komunis
2750 2015/03/02 2020/09/21

Bantahan atas syubhat ini:

Sebelum kita mulai membantah syubhat mereka, saya ingin menyampaikan disini tentang asas pemikiran mereka yang dijadikan sebagai pijakan tentang teori maadiyah (materialisme) ini.Sesungguhnya asas pemikiran konsep materialisme ini yang diusung oleh paham komunis berada pada pembatasan definitive konsep maadah tadi.

Pemikiran ini, walaupun tumbuh dan berkembang di masyarakat Eropa pada abad ke tujuh belas, namun ternyata ini adalah sebuah pemikiran lawas yang pernah dicuatkan oleh anak manusia pada zaman dahulu kala semenjak munculnya penyelewengan aqidah pada umat manusia. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pemikiran ini merupakan buah adopsi dari paham lama yang diusung oleh kelompok materialisme dan atheisme pertama yang mengusung pemikiran ingkar terhadap hari kebangkitan dengan menisbatkan kematian pada masa sebagai ganti penisbatan pada Allah ta'ala, hal ini, sebagaimana di isyaratkan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

 

﴿وَقَالُواْ مَاهِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّاٱلدَّهۡرُۚ٢٤﴾ [الجاثية: 24]

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS al-Jaatsiyah: 24).

 

Begitu juga, kebanyakan para penentang rasul adalah orang-orang yang menganut paham materialisme. Oleh karena itu, engkau bisa melihat bagaimana mereka begitu ambisius dalam meraih materi lalu mengingkari adanya hari kebangkitan serta hari kiamat. Mereka berpikiran bahwa ganjaran yang akan diperoleh oleh anak manusia hanya terbatas pada kenikmatan mereka menikmati perhiasan dunia semata. Sinyalemen itu bisa kita tangkap dari firman Allah Shbhanahu wa ta’alla berikut ini, Allah mengatakan:

 

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِي قَرۡيَة مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُمبِهِۦ كَٰفِرُونَ٣٤  وَقَالُواْ نَحۡنُ أَكۡثَرُ أَمۡوَٰلا وَأَوۡلَٰدا وَمَانَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ٣٥﴾ [ سبأ: 34-35]

"Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya". Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab". (QS Saba': 34-35).

 

Begitu juga bisa kita tangkap didalam firmanNya yang lain, Allah mengatakan:

 

﴿ أَيَعِدُكُمۡ أَنَّكُمۡ إِذَامِتُّمۡ وَكُنتُمۡ تُرَابا وَعِظَٰمًا أَنَّكُم مُّخۡرَجُونَ ٣٥ ۞هَيۡهَاتَ هَيۡهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ ٣٦ إِنۡ هِيَ إِلَّاحَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧﴾ [ المؤمنون: 35-37]

"Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu). Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu. Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi". (QS al-Mukminuun: 35-37).

 

Sebagaimana yang diabadikan oleh al-Qur'an tatkala mengkisahkan ucapan kelompok materialisme diawal-awal munculnya agama Islam. Allah ta'ala mengatakan:

"Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami, atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". Katakanlah: "Maha suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?". (QS al-Israa': 90-93).

 

Sungguh al-Qur'an telah menjelaskan, bahwa tuntutan yang diminta oleh pemilik paham materialisme sebagai ganti mau membenarkan ajaran yang dibawa oleh rasul terakhir bukanlah perkara aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Namun, kejadiannya hampir sama dialami oleh para penggemban risalah pada umat-umat dahulu. Hal ini bisa kita lihat dari firman Allah Ta’ala yang mengkisahkan hal tersebut. Allah ta'ala berfirman:

 

"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa". (QS al-Baqarah: 118).

 

Maksudnya, hati-hati kaum musyrikin Arab serupa dengan hati-hati yang dimiliki oleh orang kafir sebelum mereka yang keras kepala. Begitu juga Allah Shbhanahu wa ta’allasinggung didalam firman         -Nya:

﴿يَسۡ‍َٔلُكَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيۡهِمۡ كِتَٰبا مِّنَ ٱلسَّمَآءِۚ فَقَدۡ سَأَلُواْ مُوسَىٰٓ أَكۡبَرَ مِن ذَٰلِكَ فَقَالُوٓاْ أَرِنَا ٱللَّهَ جَهۡرَة فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ بِظُلۡمِهِمۡۚ ١٥٣﴾ [النساء: 153]

"Ahli kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya". (QS an-Nisaa': 153).

 

Hal senada juga Allah Shbhanahu wa ta’allasebutkan dalam firman -Nya yang lain, yang bebunyi:

 

﴿كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢ أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡم طَاغُونَ ٥٣﴾ [ الذريات: 52-53]

"Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila". Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas". (QS adz-Dzariyaat: 52-53).

 

Pola pikir mereka semua sama, ucapan generasi belakangan sama persis dengan ucapan para pendahulunya tak ada yang berbeda. Yang nampak secara dhohir, bahwa konsep mereka lebih menitik beratkan pada materi, dan mengingkari sesuatu yang tidak bisa diraba dan dilihat. Mereka tidak pernah mengenal yang namanya rasa puas dan cukup.[1]

Tapi, jika diperhatikan secara seksama ada beberapa sisi perbedaan antara atheis zaman dahulu dengan atheis di era modern zaman sekarang. Diantara yang paling mencolok yaitu:

Pertama: Yang dimaksud dengan atheis ialah paham yang asasnya mengingkari keberadaan Allah Shbhanahu wa ta’allasecara mendasar -inilah arah pemikiran mereka yang paling jelas yang banyak dianut oleh orang atheis era modern sekarang-, yang justru tidak nampak secara mencolok dan menyebar secara luas pada orang atheis zaman pertama. Tapi, yang populer atheis mereka lebih pada makna kesyirikan yaitu dengan memberikan kekhususan uluhiyah kepada selain Allah azza wa jalla. Lalu menyekutukan –Nya bersama sesembahan yang mereka jadikan sebagai sekutu bagi Allah ta'ala.

Memang benar kalau atheis dahriyah pahamnya sudah sangat tua dan sudah ada pada masa lampau –sebagaimana kami isyaratkan diatas- tapi, mereka sangat sedikit, boleh dibilang minoritas plus ditambah perbedaan pendapat yang ada ditengah-tengah mereka dalam masalah ini. Dan kelompok tersebut bisa diklasifikasikan menjadi dua aliran[2]:

Pertama: Ahli filsafat yang beraliran atheis ingkar tuhan. Yang mengatakan kekalnya alam semesta. Diantara tokohnya adalah Aristoteles dan para pengikutnya. Mereka tidak pernah mengatakan, bahwa unsur benda dialah yang menciptakan, tapi yang ada mereka menetapkan bagi jagad raya ada penyebab yang menjadikan terbentuk serupa dengan alam semesta[3].

Kedua: Ahli filsafat yang beraliran dahriyah atheis atau sering di istilahkan dengan nama filsafat alam. Kelompok inilah yang ucapannya di nukil oleh Allah didalam firman -Nya:

 

 ﴿ وَقَالُواْ مَاهِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ٢٤﴾ [الجاثية: 24]

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS al-Jaatsiyah: 24).

 

Paham ini hampir mirip pada beberapa sisi dengan paham komunis yang ada di era sekarang. Dan ucapan mereka telah dibantah secara langsung oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

 

﴿وَمَالَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ  إِنۡ هُمۡ  إِلَّايَظُنُّونَ ٢٤﴾ [ الجاثية: 24]                  

"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja". (QS al-Jaatsiyah: 24).

 

Maksudnya, mereka hanya menerka-nerka saja serta mengkhayalkannya. Paham mereka ini sama sekali tidak disandarkan pada bukti dan ilmu yang yakin, tapi, hanya sekedar praduga saja dan terkaan belaka[4].

Akan tetapi, ideologi komunis yang ada dewasa ini, walaupun mempunyai sisi kesamaan dari pola pikir yaitu dari segi ingkar terhadap tuhan, namun, mereka memiliki perbedaan mencolok pada beberapa sisi dengan yang pertama -sebagaimana nanti akan kita jelaskan-.

Kedua: Paham atheis yang ada pada zaman ini ialah paham yang asasnya didasari dengan ingkar pada keberadaan AllahShbhanahu wa ta’alla. Sebuah ideologi baru yang menyebar secara luas pada era modern ini di negeri-negeri Eropa sebagai pola pikir baru, lalu dilanjutkan dengan adanya Negara yang menjadikan sebagai ideologinya, dan negara yang turut serta mengkampanyekannya. Bahkan, mereka memerangi negeri-negeri Islam hingga ada sebagian mereka yang berteriak lantang untuk mengkampanyekan dan menyebarkan pemikiran sesatnya tersebut.

Ketiga: Sesungguhnya paham atheis yang ada pada zaman ini, menggunakan sarana ilmu pengetahuan modern. Dengan klaim bahwa hal tersebut lebih ilmiah dan semakin mendukung riset ilmu pengetahuan.

Hal itu, dikarenakan pakaian yang dikenakan oleh penganut paham materialisme, baik generasi pertama maupun yang ada pada era modern sekarang ini ialah sama yaitu sama-sama tertumpu pada materi sebagai elemen yang bisa dilihat dan diraba bukan suatu hipotesa yang sulit diraba. Sehingga mereka meletakan pola pikir ilmiah untuk menggambarkan sesuatu yang bisa diletakan pada ruang uji coba, yang semua bisa dibuktikan dengan analisis. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak bisa diangkat dalam ruang uji coba maka tidak dinamakan sebagai ilmu pengetahuan, menurut mereka.

Dari situlah mereka berusaha menjauhkan prinsip-prinsip agama dan perkara gaib dari forum kajian dan penelitian ilmiah, dikarenakan tidak adanya bukti akurat menurut mereka.Bahkan perkaranya lebih lanjut dari sekedar itu, dimana bagi sebagian besar ilmuwan Eropa meyakini bahwa agama tidak lebih dari khurafat, sehingga mereka menolak mentah-mentah keyakinan iman kepada AllahShbhanahu wa ta’alla dengan argumen ilmu pengetahuan telah menolaknya.

Mereka membenci para juru dakwah secara khusus dan pada agama Islam secara umum, bahkan ideologi dan pemikiran ini perkaranya sampai pada tingkatan menjadi modul pada kebanyakan universitas-universitas di negeri Islam, terkadang memakai istilah filsafat, atau geologi, atau ekonomi modern dan yang lainnya.[5]Pola pikir diatas barangkali bisa kita bantah menjadi beberapa poin, diantaranya:

  1. 1.         Kurang konsisten pada metodologi tertentu.

Ini bisa ditinjau dengan berbagai alasan, diantaranya yaitu:

  • Plin-plan dalam memberi definisi kepada kata maadah (material).

Sebelumnya telah kita nukilkan definisi maadah, mengacu pada pengertian yang mereka buat. Yang akhirnya definisi tersebut juga diamini oleh orang komunis, tapi kemudian mereka meralat kembali definisi tersebut sambil mengatakan, "Yang dimaksud dengan maadah ialah benda abstrak diluar kekuatan energi".

Coba bandingkan dengan ucapan mereka sebelumnya, tatkala memberi definisi maadah ini, awalnya mereka mendefinisikan maadah dengan, "Segala sesuatu yang bisa ditangkap dengan panca indera". Mereka membatasi elemennya hanya terbatas pada empat perkara, yaitu, air, angin, tanah dan api.

Ketika didebat, maka orang yang berpaham materialisme biasanya akan memukul meja dengan tangannya secara kasar, untuk menjelaskan teorinya yang bisa diraba,  atau menginjak tanah dengan kakinya, sembari berkata pada orang yang mendebatnya, "Inilah hakekat (benda), yang bisa saya tangkap melalui indera saya, dengan tangan, kaki, atau yang saya lihat melalui kedua mataku, atau yang saya dengar lewat kedua telinga".[6]

Kemudian setelah riset-riset ilmiah semakin berkembang, penelitian dan ilmu uji coba terus menyebar pada era belakangan ini, yang dibarengi dengan menyebarnya pula hukum-hukum gratifasi benda dan cahaya, serta konsep-konsep lainya yang lebih dikenal dengan hukum positif.

Dimana ilmu sains modern lebih maju daripada ilmu pengetahuan yang hanya sekedar mengandalkan daya tangkap panca indera, sampai akhirnya ditemukan dalam riset ilmiah mereka tentang molekul terkecil yaitu atom.

Hal itulah yang mendasari mereka untuk segera meralat ungkapan dalam mengistilahkan kata maadah yang sebelumnya mereka jadikan sebagai pegangan, mereka meralat definisi maadah menjadi, "Benda abstrak diluar kekuatan energi.[7]

 

  • Mereka meralat kalau material sudah lebih dahulu ada dari pada sebuah pemikiran.

Pada awalnya orang-orang komunis mengatakan bahwa material sudah lebih dulu ada dari pada pikiran. Tujuan yang ingin mereka capai dari konsep ini ialah mengingkari perkara-perkara gaib karena termasuk perkara yang teorisme. Makanya dikatakan maadah sudah lebih dulu ada daripada teori. Sehingga jangan memikirkan tentang maadah, karena asalnya adalah maadah.

Akan tetapi mereka buru-buru meralat pernyataan tersebut yang mengatakan maadah lebih dahulu ada daripada teori.

Para pengamat pemikiran Markisme dalam penyimpulan asas pemikirannya mengatakan, "Sesungguhnya pergerakan otak atau pikiran secara khusus, lebih istimewa daripada sebuah materi. Akan tetapi, keistimewaannya tidak dalam bentuk dan dari bentuk unsur benda.

Pada pokok permasalahan ilmu filsafat menentang adanya pikiran itu sama seperti menolak adanya maadah, dan menentang adanya roh sama seperti menolak fisika. Maka yang dimaksud dengan maadah ialah segala benda yang ada diluar konteks akal pikiran serta tidak terhenti pada akal saja. Oleh sebab itu, suatu kekeliruan besar jikaberanggapan bahwa pikiran termasuk bagian dari maadah, pada waktu yang bersamaan bisa dianggap bahwa tauhid berada pada pemikiran dan maadah, dari prinsip-prinsip materialisme yang komprehensif".[8]

Jadi, orang-orang komunis telah mensifati sendiri konsep materi pada abad kesembilan belas yang menjadi tonggak berdirinya paham Markisme dan Komunisme yang dibangun diatas pondasinya, dimana mereka menyamakan antara konsep materi dan teori. Menganggap bahwa teori adalah bentuk perkembangan dari bentuk-bentuk materi sebagai akibat dari pantulan pertengahan materi. Mereka mensifati ucapan ini sebagai prinsip yang komprehensif.

Dari sini kita bisa melihat, bagaimana bentuk plin-plannya mereka didalam mendefinisikan pikiran (teori), sebagian mereka menganggap bagian dari materi, sebagian lain memasukan pada gabungan antara materi dan pikiran, dan menganggapnya sebagai definisi yang paling universal. Sekarang kita ingin bertanya pada kalian, "Mana yang benar menurut kalian tentang masalah ini? Apakah keduanya hakekatnya satu, atau keduanya mempunyai perbedaan?

  • Mereka juga meralat ucapannya jika material sebagai asal segala sesuatu.

Yaitu, tatkala di abad kedua puluh muncul ledakan atom, dan ilmuwannya berusaha merubah maadah menjadi alat kekuatan, sehingga membuka pada masalah ini definisi-definisi baru tentang maadah. Diantaranya, dikatakan maadah hanya partikel-partikel energi yang berbeda-beda. Sebagian ulama mereka mengatakan, "Sesungguhnya maadah susunan dari proteinesme dan elektronisme. Maksudnya lemak yang dihasilkan dan diperoleh dari proses pembakaran".

Manakala pengertian maadah berubah maka mereka berpendapat tidak benarnya ucapan bahwa maadah sebagai asas dari segala sesuatu. Bahkan, telah berhasil diungkap belakangan ini bahwa material pada dasarnya ialah energi dengan elemen khusus yang dimilikinya sehingga membentuk sebuah material kecil.

Sehingga mereka mengatakan, "Bagaimana perkaranya? Bisa kita katakan tentang material pengertianya telah berubah pada energi yang menjadi sumber material tersebut". Itulah yang dilakukan oleh Lenin.[9]

Dari pemaparan diatas berkaitan dengan definisi material, dan nukilan ucapan-ucapan mereka yang berkaitan denganya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa material yang dikatakan oleh orang komunis dan atheis, yang dengan teori tersebut mereka membangun asas pemahamannya, definisinya telah berubah total. Hingga tidak masuk dalam pengertian yang komprehensif yang dahulunya orang-orang komunis begitu mendewakannya. Sebab material pada abad kedua puluh telah berubah menjadi sebuah energi (yaitu atom, sebagai elemen benda yang terkecil).

Sebagaimana telah diumumkan belakangan ini hasil riset yang telah ditemukan kepada publik, bahwa suatu benda keras yang kita sentuh dan lihat tidak lain adalah susunan dan kumpulan dari pembakaran energi dan elektronik.[10]Bahkan dunia material yang terkumpul di sebuah gunung, sungai, tanah, pohon dan seterusnya yang bisa kita saksikan melalui panca indera kita, semuanya merupakan partikel-partikel kecil yang tertahan dari cahaya elektronik kecil yang senantiasa bergerak.

Dengan ini kita telah menyelesaikan bantahan yang mengatakan bahwa material merupakan asal dari segala benda, yang dengan sendirinya sebagai kritikan atas ucapan mereka tentang azaliyah dan abadinya sebuah materi.



[1]. Itijahaat Fikriyah al-Mu'ashirah wa Mauqif Islam minha hal: 44-45 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[2]. Lihat dalam kitab Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 5/538-539, dan Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 1/122.

[3]. Ibid.

[4]. Tafsir Ibnu Katsir 4/150.

[5]. Lihat keterangannya dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 46-47. D. Jum'ah al-Khawali.

[6]. Lihat keterangannya dalam kitab Aqa'id Fikriyah fil Qarn I'syrin hal: 36 oleh Abbas Mahmud.

[7]. Ibid.

[8]. Asas Marksiyah Leniniyah hal: 102-103. Kumpulan Ilmuwan Uni Soviet.

[9]. Kafasyif Zuyuf hal: 487 oleh Prof Abdurahman bin Hasan al-Maidani.

[10]. Itijahaat Fikriyah hal: 181 oleh D. Jum'ah al-Khuwali.

Previous article Next article
Website Muhammad Rasulullah saw.It's a beautiful day