1. Articles
  2. Kaya Dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?
  3. Muqodimah

Muqodimah

2391 2013/07/08 2021/10/25

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Kekayaan dan besarnya penghasilan sering diidentikkan dengan gaya hidup mewah, glamour, cinta dunia yang berlebihan dan ambisi yang tidak pernah puas untuk terus mengejar harta. Karena itu, ada kesan orang-orang yang berduit sangat disibukkan dengan kekayaan mereka yang menyebabkan mereka lalai dari dzikrullah (mengingat Allah Azza wa Jalla) dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kemudian.

Kenyataan ini tentu saja merupakan ancaman fitnah (kerusakan) besar bagi seorang hamba yang tidak memiliki benteng iman yang kokoh untuk menghadapi dan menangkal fitnah harta tersebut. Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  secara khusus memperingatkan umat dari besarnya bahaya fitnah harta dan kedudukan duniawi dalam merusak agama dan keimanan seseorang dalam sabda beliau:

 

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِه » [ رواه الترمذي والدارمي صحيحه الألباني ]

Tidaklah dua ekor srigala kelaparan yang dilepaskan kepada kambing, lebih besar kerusakan (bahaya) nya terhadap kambing tersebut, dibandingkan dengan (sifat) rakus seorang manusia terhadap harta dan kedudukan (dalam merusak/membahayakan) agamanya [HR. Tirmizi dan Darimi].

Timbulnya kerusakan ini dikarenakan kerakusan terhadap harta dan kedudukan akan mendorong orang untuk terus mengejar dunia dan menjerumuskannya kepada hal-hal yang merusak agamanya. Sebab, umumnya sifat inilah yang membangkitkan dalam diri seseorang sifat sombong dan keinginan berbuat kerusakan di muka bumi, yang sangat tercela dalam agama. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣ ﴾ [القصص: 83]   

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa [al-Qashash/28:83].

Kenyataan inilah yang seharusnya menjadikan seorang Muslim yang menghendaki kebaikan dan keselamatan dirinya, utamanya orang-orang yang diberikan kekayaan dan rezki yang berlimpah, untuk selalu waspada dan introspeksi diri, serta tidak terlalu percaya diri (bersandar kepada kemampuan diri) dalam hal ini, dengan merasa imannya kuat dan aman dari kemungkinan terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Cukuplah sikap percaya diri yang berlebihan seperti ini menjadi bukti rapuhnya keimanan dalam hati dan pertanda jauhnya taufik dari Allah Azza wa Jalla kepada hamba tersebut!

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "al-‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah Azza wa Jalla dan agama -Nya) telah bersepakat (mengatakan) bahwa (arti) taufik itu adalah Allah Azza wa Jalla tidak menyerahkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al-khudzlan (berpalingnya Allah Shubhanahu wa ta’alla dari hamba) adalah Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla)…” .

Inilah makna doa Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  yang terkenal dan termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: “…(Ya Allah!) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan aku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata”. Tidakkah orang yang beriman khawatir dirinya akan ditimpa kerusakan dalam agama dan imannya, sebagai akibat dari fitnah harta, padahal hamba Allah Azza wa Jalla yang paling sempurna imannya, Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam, mengkhawatirkan hal ini menimpa umatnya? sebagaimana tertuang dalam doa beliau berikut :

« وَلاَ تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا في دِيْنِنا ، ولا تَجْعَلِ الدُّنْيا أَكْبَرَ همِّنا » [ رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kedudukan) sebagai target utama kami. [ HR. Tirmizi].



Next article

Articles in the same category

Website Muhammad Rasulullah saw.It's a beautiful day