1. Articles
  2. Jenis-Jenis Bid’ah dan Berbagai Kondisi Para Pelakunya
  3. Berdialog dengan ahli bid’ah

Berdialog dengan ahli bid’ah

2400 2013/05/16 2020/09/21

Dekat dari masalah mendiamkan adalah masalah berdialog dengan orang-orang yang menyimpang (ahli bid’ah) dan berdebat dengan mereka:

    Sesungguhnya berdialog dengan ahli batil (ahli bid’ah) dan menjelaskan syubhat mereka mendapat pujian dan dorongan dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya, sebagaimana firman-Nya:

﴿ اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ﴾ [النحل: 125] 

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. an-Nahl:125)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala memberi karunia kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan memberikan kemampuan berhujjah kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

﴿ وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَآءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ {83}   [الأنعام: 83

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’aam:83)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan beberapa dialog di antara ahli haq dan ahli batil. Di antaranya, dialog Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya sebagaimana dalam surah al-An’aam, dialog Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun sebagaimana dalam surah asy-Syu’ara dan yang lainnya.

Dan diriwayatkan dari salaf tentang bolehnya dialog dan debat di saat-saat tertentu. Banyak kalangan salaf yang berkata: ‘Dialoglah dengan kaum Qadariyah dengan ilmu, jika mereka mengakui dengannya berarti mereka kalah dan jika mereka mengingkari berarti mereka kafir.’[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Di antara yang sudah diketahui secara mutawatir bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bersikap wala` kepada selain Syi’ah melebihi sikap wala`nya terhadap Syi’ah, sehingga terhadap kaum Khawarij, ia duduk bersama mereka, memberi fatwa dan berdialog dengan mereka.[2]

Dan sebaliknya juga diriwayatkan celaan berdebat dan bertengkar dalam masalah agama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ مَايُجَادِلُ فِي ءَايَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَلاَ يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ {4} [غافر: 4] 

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu. (QS. Ghafir:4)

Dan firman-Nya:

﴿وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِنَا مَالَهُم مِّن مَّحِيصٍ 35   [الشورى: 35] 

Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat (kekuasaan) Kami mengetahui bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan). (QS. asy-Syura’:35)

Dan banyak pula dalil-dalil dari sunnah, di antaranya: sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللّهِ الْأَلَدُّ الْخَصمُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

 “Laki-laki yang paling dibenci Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang sangat memusuhi lagi suka berdebat.”[3]

An-Nawawi rahimahullah berkata: ‘al-Aladd, yaitu sangat memusuhi. Diambil dari ladiday wady, yaitu dua sisinya, karena setiap kali didebat atasnya dengan hujjah ia mengambil dari sisi yang lain. Adapun khashm, yaitu yang suka bermusuhan. Dan yang dicela adalah permusuhan dengan cara batil dalam mengangkat hak atau menetapkan kebatilan. Wallahu A’lam.[4]

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَاضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ  إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ » [ أخرجه الترمذي وابن ماجه ]

Tidak tersesat satu kaum setelah mendapat petunjuk yang mereka berada di atasnya kecuali mereka suka berdebat,’ kemudian beliau membaca:

﴿ مَاضَرَبُوهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً ﴾ [الزخرف: 58] 

Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja,. (QS. az-Zukhruf:58)[5]

                Dan diriwayatkan pula dari salaf yang menunjukkan celaan berdebat dan bertengkar dalam agama.

                Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah berkata: ‘Aku mendapatkan manusia, sedangkan mereka berada di atas jumlah, maksudnya tidak banyak berbicara dan tidak bermusuhan (dalam agama).’[6]

                Abdurrahman bin Abu Zinad rahimahullah berkata: ‘Aku bertemu orang-orang yang utama dan ahli fiqih dari manusia terpilih; mereka mencela orang yang suka berdebat dan mengambil pendapat sendiri, melarang kami bertemu dan duduk bersama mereka, serta memperingatkan kami dari mendekati mereka.[7]

  Imam Ahmad rahimahullah berkata: ‘Dasar-dasar sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan sesuatu yang diperpegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan mengikuti mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, meninggalkan perdebatan dan duduk bersama pengikut hawa nafsu, dan meninggalkan perdebatan dan permusuhan dalam agama.’[8]

   Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: ‘Para ulama salaf dari Ahlus Sunnah sepakat melarang perdebatan dan permusuhan dalam masalah sifat (Allah subhanahu wa ta’ala), dan mencela mendalami ilmu kalam dan mempelajarinya.’[9]

 Akan tetapi semua ini, maksudnya pujian dan celaan, tidak kembali kepada perdebatan dan dialog itu sendiri, dan sesungguhnya ia kembali kepada merealisasikan tujuan-tujuan dialog, syarat-syarat dan adab-adabnya.



[1] Jami’ul Ulum wal Hikam 1/27.

[2] Minhaj Sunnah Nabawiyah 7/263

[3] Al-Bukhari (2/867) (4/1644) (6/2628) (2325) (4251) (6765) dan Muslim 4/2054 (2668).

[4] Syarh Muslim 16/219.

[5] At-Tirmidzi 5/378, Ibnu Majah 1/19 (48) dan dihasankan oleh al-Albany dalam Shahih at-Targhib 1/33.

[6] Al-Ibanah Kubra 2/529.

[7] Referensi yang sama 2/532.

[8] Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah 1/156 dan Adab Syar’iyah 1/201.

[9] Syarh Sunnah 1/216.

Previous article Next article
Website Muhammad Rasulullah saw.It's a beautiful day