1. Articles
  2. Pembahasan Seputar Aqidah
  3. Bab Keempat

Bab Keempat

Under category : Pembahasan Seputar Aqidah
1357 2013/05/07 2021/07/29

Tentang keimanan, kekufuran dan kemunafikan

 

     Iman dan kekufuran adalah dua nama dan hukum yang di turunkan langsung oleh Allah semata. Oleh karena itu, tidak boleh mengkafirkan seseorang tanpa di sertai dalil dan penjelasan dari Allah ta'ala.

     Sedangkan umat manusia di muka bumi ini hanya terbagi menjadi dua, yang tidak ada golongan ketiganya, yaitu: Orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir. Allah Azza wa jalla menjelaskan hal tersebut dalam firmanNya:

﴿هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ فَمِنكُمۡ كَافِرٞ وَمِنكُم مُّؤۡمِنٞۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ٢﴾. [ التغابن : 2]

"Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan".  (QS at-taghaabun: 2).

    Dan hukum atas keduanya adalah suatu ketentuan yang harus sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah di dalam kitabNya dan sunah nabiNya.

Adapun orang munafik, mereka adalah:

  • Adakalanya, dia memang orang kafir yang menyembunyikan kekafirannya kemudian menampakan keimanannya. Seperti halnya, orang yang menampakan keimanan kepada Allah, kitabNya, rasulNya, namun, di dalam jiwanya dia mendustakan itu semua. Inilah yang di namakan dengan nifak akbar (kemunafikan yang besar).
  • Atau, memang dia adalah seorang muslim yang menyembunyikan perbuatan maksiat lalu menampilkan ketaatan. Seperti halnya, orang-orang yang cepat di dalam memenuhi janji padahal dalam hatinya dia menyembunyikan penghianatan. Menampakan kejujuran dalam bicara akan tetapi aslinya berbeda. Inilah yang di namakan kemunafikan yang kecil. Dan hukum berinteraksi dengan orang munafik ialah hukum muamalah muslim secara dhohir sesuai dengan apa yang nampak dari mereka.

 

     Dan pada asalnya, hukum di dalam harta dan darahnya seorang muslim adalah haram, adapun orang kafir maka halal keduanya. Akan tetapi jangan di pahami secara mutlak. Karena bisa jadi, terkadang orang kafir terjaga darah dan hartanya, di karenakan, perjanjian, jaminan keamanan padanya, dan bila mau memberi upeti.

     Dan seorang mukmin boleh di bunuh dengan sebab dosa yang dikerjakannya, seperti karena membunuh atau berzina setelah dirinya menikah.

     Kemudian, tidak boleh mengkafirkan seseorang melainkan orang yang telah di kafirkan oleh Allah dan RasulNya. Mereka ada golongan, diantaranya:

  • Orang yang mendustakan Allah azza wa jalla dan NabiNya shalallahu 'alaihi wa sallam.
  • Atau, orang yang mengolok-olok keduanya. Sebagaimana secara tegas di terangkan di dalam firmanNya:

 

﴿ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦﴾ [ التوبة : 65-66]

"Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa".  (QS at-Taubah: 65-66).

  • Atau, orang yang durhaka dan enggan untuk tunduk kepada Allah dan RasulNya.
  • Atau, mengingkari secara terang-terangan salah satu dari hukum-hukum Islam.
  • Atau mendustakan Allah tabaraka wa ta'ala. Allah ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pendusta".  (QS an-Nahl: 105).

 

Dalam ayat yang lain Allah ta'ala berfirman:

 ﴿وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ٦٨﴾. [العنكبوت : 68]

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?"  (QS al-'Ankabut: 68).

Dan di tafsirkan oleh para ulama bahwa makna kalimat zalim adalah yang di maksud kekafiran.

  • Atau, memalingkan sebuah ibadah kepada selain Allah azza wa jalla. Sebagaimana yang di jelaskan dalam firmanNya:

 

﴿ وَمَن يَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ١١٧ ﴾ [المؤمنون : 117]

"Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung".  (QS al-Mu'minun: 117).

     Sama saja, apakah ibadahnya tersebut di lakukan dengan ikhas murni hanya untuk selain Allah, atau menjadikan sesembahan tersebut sebagai sarana saja, maka semuanya masuk dalam kekafiran. Allah ta'ala berfirman:

﴿ وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ١٨ ﴾ [ يونس : 18]

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu)".  (QS Yunus: 18).

 

  • Atau menjadikan kekhususan yang di miliki oleh Allah semata kepada yang lainNya, seperti haknya Allah di dalam membikin syari'at dan hukum, mengharamkan dan menghalalkan. Maka sesungguhnya membikin syari'at dan hukum di namakan oleh Allah ta'ala sebagai salah satu bentuk ibadah. Hal sebagaimana yang di jelaskan dalam firmanNya:

 

﴿ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٤٠ ﴾  [يوسف : 40]

"Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia".   (QS Yusuf: 40).

  • Atau, mengklaim bahwa selain Allah ada mengetahui ilmu ghoib, seperti sihir, perdukunan dan ilmu perbintangan. Allah ta'ala menyatakan dalam firmanNya:

 

﴿ قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ ٦٥ ﴾  [ النمل : 65]

"Katakanlah: "tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan". (QS an-Naml: 65).

  • Atau, menyakini bahwa ada yang mencipta serta mengatur, di alam semesta, menghidupkan, atau mematikan selain Allah. Secara jelas Allah ta'ala menerangkan dalam firmanNya:

 

﴿أَمۡ جَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُواْ كَخَلۡقِهِۦ فَتَشَٰبَهَ ٱلۡخَلۡقُ عَلَيۡهِمۡۚ قُلِ ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُوَ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّٰرُ ١٦﴾ .[ الرعد : 16]

"Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (QS ar-Ra'd: 16).

  • Demikian pula orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai kekasih daripada orang-orang yang beriman, baik dalam bentuk kecintaan maupun pertolongan. Allah ta'ala berfirman:

 

﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ ٥١﴾. [ المائدة : 51]

"Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka". (QS al-Maa'idah: 51).

      Dan barangsiapa mempunyai kemudahan untuk bisa mempelajari dan mengetahui Islam kemudian dia enggan lalu meninggalkannya, serta berpaling darinya dengan pilihannya sendiri, maka dia juga di katakan sebagai orang kafir. Walaupun dirinya tidak paham secara rinci. Karena orang yang bodoh seperti ini, kebodohannya memungkinkan untuk bisa di hilangkan dengan belajar, akan tetapi dirinya enggan untuk menghilangkannya, oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman tentang orang-orang musyrikin:

﴿ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ فَهُم مُّعۡرِضُونَ ٢٤﴾ [ الأنبياء : 24]

"Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling".  (QS al-Anbiyaa': 24).

     Di sebutkan dalam ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang bodoh akan tetapi dengan sebab pilihan mereka sendiri.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

﴿وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ ٣﴾ [ الأحقاف : 3]

"Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka". (QS al-Ahqaaf: 3).

     Tanpa adanya ilmu seseorang tentang kebenaran secara rinci dengan sebab enggannya dia untuk mendengar kebenaran, maka hal tersebut bukan termasuk sebuah udzur. Dan inilah faktor terbanyak kebodohan yang terjadi ditubuh umat. Mereka mendengar adanya kebenaran kemudian mereka berpalingg atau pura-pura bodoh, enggan untuk mempelajari secara detail.

     Dan sikap tidak mau susah untuk mengetahui ayat kauniyah maupun syar'iyah merupakan perkara yang paling banyak menimpa pada orang-orang kafir. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Allah ta'ala di dalam firmanNya:

﴿وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ١٠٥﴾ [ يوسف : 105]

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling dari padanya".  (QS Yusuf: 105).

Dalam ayat yang lain, Allah ta'ala berfirman:

﴿بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ ٧١﴾ [ المؤمنون : 71]

"Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu".  (QS al-Mu'minun: 71).

    Jika berpaling dari sisi ilmu, tidak bisa menggugurkan hak-hak orang lain yang terjadi di kalangan mereka, lantas bagaimana mungkin hal tersebut menjadi gugur ketika berkaitan dengan haknya Allah azza wa jalla?!

     Maka, akal jika enggan untuk berhenti sejenak, guna memperhatikan ayat-ayat Allah, dia cuma tertinggal dari maksud dan tujuannya, namun, tidak seperti tertinggalnya orang yang terburu-buru, tanpa peduli dengan ayat-ayat tersebut. sehingga tidak ada manfaatnya sama sekali bagi dirinya, walaupun hujah ada di depan matanya, secara terang dan jelas yang bisa di lihat setiap hari. Allah berfirman:

﴿ وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا مَّحۡفُوظٗاۖ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ ﴾ [ الأنبياء:32]

"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya".  (QS al-Anbiyaa': 32).

     Oleh karenanya, keliru kalau seseorang mengira bahwa berpalingnya dia dari kebenaran secara rinci, lalu menjadikan di belakang punggungnya, mengira bahwa hal tersebut masih di maafkan bagi para pengikutnya.

    Dan faktor yang menyebabkan mereka berpaling bisa karena sombong, lalai, dan terlena. Oleh karena itu, jika turun musibah yang menimpanya, kesombongannya langsung sirna, kelalaiannya terbangun, kemudian baru sadar adanya kebenaran, lalu dirinya baru mau kembali.

 


Previous article Next article

Articles in the same category

Website Muhammad Rasulullah saw.It's a beautiful day